PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM DAN BUDI PEKERTI
“MENGHORMATI
ORANG TUA”

Disusun oleh :
1
.
2.
3.
4.
5.
SMKN 1 PRAYA
PROGRAM STUDI
TATA BOGA
2015/2016
PENDAHULUAN
Mengenai
pengertian orang tua dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan “Orang tua
artinya ayah dan ibu.“ (Poerwadarmita, 1987: 688).Sedangkan dalam penggunaan
bahasa Arab istilah orang tua dikenal dengan sebutanAl-walidpengertian tersebut
dapat dilihat dalam Alquran surat Lukman ayat 14 yang berbunyi.Artinya: “Dan kami
perintahkan kepada manusia (Berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambahdan menyapihnya
dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu.”(Q.S. Lukman ayat 14)Banyak dari kalangan para ahli
yang mengemukakan pendapatnya tentang pengertian orang tua, yaitu menurut Miami
yang dikutip oleh Kartini Kartono, dikemukakan “Orang tua adalah pria dan
wanita yang terikat dalam perkawinan dan siap sedia untuk memikul tanggung
jawab sebagai ayah dan ibu dari anak-anak yang dilahirkannya.“ (Kartono, 1982 :
27).Maksud dari pendapat di atas, yaitu apabila seorang laki-laki dan seorang
perempuan telah bersatu dalam ikatan tali pernikahan yang sah maka mereka harus
siap dalam menjalani kehidupan berumah tangga salah satunya adalah dituntut
untuk dapat berpikir seta begerak untuk jauh kedepan, karena orang yang berumah
tangga akan diberikan amanah yang harus dilaksanakan dengan baik dan benar,
amanah tersebut adalah mengurus serta membina anak-anak mereka, baik dari segi
jasmani maupun rohani. Karena orang tualah yang menjadi pendidik pertama dan
utama bagi anak-anaknya.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur senantiasa
selalu kita panjatkan ke hadirat Allah
SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya kita
dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa pula kita
haturkan kepada junjungan alam nabi
besar kita nabi Muhammad saw. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan
tugas ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi, penulisan maupun
kata-kata yang digunakan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang
bersifat membangun guna perbaikan makalah
ini lebih lanjut, akan kami terima dengan senang hati. Tidak lupa kami
ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
tugas ini. Semoga makalah yang kami buat ini bisa bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.LATAR BELAKANG
Birrul walidain atau berbakti kepada orang tua adalah hal yang
diperintahkan dalam agama. Oleh karena itu bagi seorang muslim, berbuat baik
dan berbakti kepada orang tua bukan
sekedar memenuhi tuntunan norma susila dan norma kesopanan, namun juga memenuhi
norma agama, atau dengan kata lain dalam rangka menaati perintah AllahTa‟ala dan Rasul
Nyashallallahu‘alaihi wa sallam birrul waalidain (berbakti kepada kedua
orang tua), lebih dari sekadar berbuat ihsan (baik) kepada keduanya. Namun
birrul walidain memiliki nilai-nilai tambah yang semakin „melejitkan‟ makna kebaikan tersebut, sehingga menjadi
sebuah „bakti‟. Dan sekali lagi, bakti itu sendiripun bukanlah balasan yang setara
untuk dapat mengimbangi kebaikan orang tua. Namun setidaknya, sudah dapat
menggolongkan pelakunya sebagai orang yang bersyukur. Orang tua kita adalah
manusia yang paling berhak mendapatkan dan merasakan „budi baik‟ seorang anak, dan lebih pantas diperlakukan secara baik oleh si
anak, ketimbang orang lain. Ada beragam cara yang bisa dilakukan seorang
muslim, untuk “mengejawantahkan‟ perbuatan baiknya kepada kedua orang tuanya secara optimal
2.RUMUSAN
MASALAH
2.1Apa definisihormat dan patuh kepada kedua orangtua dan guru
2.2Apa saja dalil tentang hormat dan patuh kepada kedua orangtua dan guru
2.3Mengtahui kisah teladan tentang hormatdan patuh kepada kedua orangtua
dan guru
2.4Hikmah tentang hormat dan patuh kepada kedua orangtua dan guru.
3.TUJUAN DAN FUNGSI
3.1Pembaca dapat memahami tentang hormat dan patuh kepada kedua orang tua
3.2Pendorong timbulnya perbuatan baik kepada kedua orang tua
3.3Dapat mengambil hikmah dari kisah teladan kepada kedua orang tua dan
guru
BAB IIPEMBAHASAN
1.PENGERTIAN HORMAT DAN PATUH KEPADA ORANG TUA
Orang tua merupakan orang yang paling berjasa dalam hidup kita.
Bagaimanacara membalas kebaikan orang tua? Salah satu cara membalas kebaikan
orang tua yaitu bersikap patuh kepada orang tua. Selain kepada orang tua, kita
harus bersikappatuh kepada guru dan sesama anggota keluarga. Berikut pengertian
mengenai hormat dan patuh.Hormat berarti menghargai, takzim dan khidmat kepada
orang lain, baik orang tua, guru sesama anggota keluarga. Dalam hubungan dengan
orang tua, perilaku hormat ditujukan dengan berbakti kepada orang tua. Berbakti
merupakan kewajiban anak kepada orang tua. Berbakti Kepada orang tua merupakan
salah satu amal salehyang mulia. Perintah berbakti kepada orang tua terdapat
dalam beberapa ayat Al-Qur’an diantaranya QS.Al Baqarah ayat : 83yang artinya
:“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu):
Janganlah kamumenyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa,
kaum kerabat,anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah
kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.
Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu,
dan kamu selalu berpaling”.
2.CONTOH PERILAKU HORMAT DAN PATUH
Perilaku hormat dan patuh kepada orang lain sangat baik dilakukan
oleh seorang muslim. Oleh karena itu, perilaku hormat dan patuh ini harus
diterapkan kepada siapa saja. Berikut adalah contoh perilaku hormat dan patuh
kepada orang tua, guru dan anggota keluarga.vHormat dan patuh kepada orang
tua.Kita hendaknya patuh dan taat terhadap nasihat dan perintah orang tua
selama tidakuntuk maksiat atau berbuat musyrik. Bila kita diperintahkan untuk
berbuat maksiat atau kemusyrikan, kita harus menolak dengan cara yang sopan.
Dalam keadaan apapun kita harus tetap menjalin hubungan yang baik dengan orang
tua.a.Senantiasa berbuat baik dan
bersikap hormat baik dalam tingkah laku maupun tutur kata terhadap kedua orang
tuab.Mengikuti keinginan dan saran orang tua selama keinginan dan saran-saran
itu tidak melanggar ajaran agamac.Membantu kedua orang tua sesuai
kemampuand.Mendoakan orang tua semoga diberi umur panjang oleh Allah
SWTe.Menjaga dan merawat orang tua ketika orang tua sakitf.Setelah orang tua
meninggal dunia, kita menghormati orang tua dengan mendoakannyag.Hormat dan
patuh kepada guruvGurumerupakan pengganti orang tua.Guru juga berhak
mendapatkan bakti siswa nya. Hal ini karena guru telah memberikan ilmu kepada
siswa nya dengan tulus dan ikhlas. Berikut beberapa contoh perilaku hormat dan
patuh kepada orang tua:a.Memuliakan dan tidak menghina kepada gurub.Mendatangi
tempat belajar dengan ikhlas dan penuh semangatc.Memperhatikan guru yang sedang
menjelaskan pelajarand.Bertanya kepada guru apabila ada sesuatu yang belum
dimengerti dengan sikap sopane.Menggunakan cara bahasa yang baik pada saat
berbicara dengan guruf.Berpakaian rapi dan sopan ketika belajarvHormat dan
patuh kepada anggota keluargaa.Menghormati dan menghargai nasihat keluarga,
selama tidak untuk berbuat maksiat atau berbuat musyrikb.Senantiasa berbuat
baik dan bersikap hormat terhadap anggota keluarga.c.Mendoakan anggota keluarga
semoga diberi kesehatan oleh Allah swtd.Membantu anggota keluarga yang
kesulitan.e.Memohonkan ampun kepada Allah swt atas kesalahan anggota
keluargaf.Menghormati hak dan kewajiban anggota keluarga yang lain.
3.DALIL TENTANG HORMAT DAN PATUH KEPADA KEDUA ORANG TUA
Pentingnya hormat dan patuh kepada orang tua, termasuk guru
sangatlah ditekankan dalam Islam. Banyak sekali ayat di dalam al-Qur’an yang
menyatakan bahwasegenap mukmin harus berbuat baik dan menghormati orang tua.
Selain menyeru untuk beribadah kepada Allah Swt. semata dan tidak
menyekutukan-Nya dengan apa pun, al-Qur’an juga menegaskan kepada umat Islam
untuk hormat dan patuh kepada kedua orang tuanya.Muslim yang baik tentu
memiliki kewajiban untuk berbakti kepada orang tua, baik ibu maupun ayah. Agama
Islam mengajarkan dan mewajibkan kita sebagai anak untuk berbakti dan taat
kepada ibu danayah. Taat dan berbakti kepada kedua orangtua adalah sikap dan
perbuatan yang terpuji. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa Allah Swt.
memerintahkan kepada umat manusia untuk menghormati orang tua. Dalil-dalil tentang
perintah Allah Swt. tersebut antara lain pada Surah Al-Isra':Artinya:“Dan
Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah
berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali
janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau
membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan
rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah,
“Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik
aku pada waktu kecil.” (Q.S. al-Isra’/17: 23-24)عَنْ اَ بْنِ عُمَرَ رَ ضِيَ ا للهُ عَنْهُمَا اَ نَّ ا لنَّبِيَّ صَلَى ا للهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ اِ نَّ اَ بَرَّ ا لْبِرَّ اَ نْ يَصِلَ ا لرَّ جُلُ وُ دَّ اَبِيْهِArtinya :Bahwa rasulullah
bersabda: sesungguhnyakebaikan yang paling utama adalah seseorang
memelihara hubungan baik dengan orang tuanya. (HR Muslim)Seorang anak
selayaknya meminta doa restu dari kedua orang tuanya pada setiap keinginan dan
kegiatannya, hal itu karena restu Allah Swt. disebabkan restu orang tua. Anak
yang berbakti kepada orangtua doanya akan lebih mudah dikabulkan oleh Allah
Swt.Apalagi seorang anak akan melakukan atau menginginkan sesuatu. misalnya
mencari ilmu, mencari pekerjaan, dan lain lain, yang paling penting adalah
meminta restu kedua orang tuanya. Dalam sebuah hadis disebutkan: Artinya:
“Ridha Allah terletak pada ridha orang tua, dan murka Allah terletak pada kemurkaan
orang tua.” (HR. Baihaqi)Dalam hadis lain : “Aku bertanya kepada Nabi saw.,
“Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah Swt.?” Beliau menjawab, “Shalat
pada waktunya.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau menjawab,“Berbakti kepada
orang tua.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Kemudian jihad di
jalan Allah.” (HR. Bukhari)Kaitan dengan pentingnya hormat dan patuh kepada
orang tua, perlu ditegaskan kembali, bahwa
berbakti kepadakedua orang tua (birrul walidain), tidak hanya sekadar
berbuat ihsan (baik) saja. Akan tetapi, birrul walidain memiliki ‘bakti’. Bakti
itu pun bukanlah merupakan balasan yang setara jika dibandingkan dengan
kebaikan yang telah diberikan orang tua. Namun setidaknya, berbakti sudah dapat
menggolongkan pelakunya sebagai orang yang bersyukur. Imam An-Nawaawi
menjelaskan, “Arti birrul walidain, yaitu berbuat baik kepada kedua orang tua,
bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang menggembirakan
mereka, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.”Tentu saja, kewajiban
kita untuk berbakti kepada kedua orang tua dan guru bukanlah tanpa alasan.
Penjelasan di atas merupakan alasan betapa pentingnya kita berbakti kepada
kedua orang tua dan guru.
4.KISAH TELADAN HORMAT DAN PATUH KEPADA KEDUA ORANG TUA DAN GURU
Dahulu dimasa Bani Isra’ il ada seorang shaleh yang mempunyai anak
kecildan pedet ( anak lembu ). Kemudian pedet itu dibawanya ke hutan sembari
berdo’ a,“Ya Allah saya titipkan lembu ini kepada- Mu untuk putraku hingga ia
besar.”Kemudian orang tersebut meninggal, sedangkan lembu itu hidup sendiri di
dalamhutan tanpa penggembala, bahkan bila melihat orang akan segera lari
seperti seakan- akan liar.Singkat cerita, anak dari orang shaleh itu telah
dewasa. Ia sangatlah berbakti kepada ibunya, sehingga ia membagi waktu malam
menjadi tiga bagian:1.Sepertiga untuk sembahyang2.Sepertiga untuk
tidur3.Sepertiga untuk menjaga ibunyaDan apabila pagi telah tiba, ia akan pergi
untuk mencari kayu, kemudian dibawakepasar untuk dijual. Hasil dari
penjualannya pun dibagi menjadi tiga bagian:1.Sepertiga untuk
sedekah2.Sepertiga untuk makan3.Sepertiga untuk ibunyaPada suatu hari ibunya
berkata, “Ayahmu telah mewariskan untukmu seekorlembu yang dititipkan kepada
Allah di hutan,maka pergilah engkau ke sana dan berdo’ alah pada Tuhannya Nabi
Ibrahim, Ismail, Ishaq dan Yaqub semoga mengembalikannya kepadamu. Tanda lembu
itu adalah kulitnya berwarna kuning berkilauan bagaikan emas, terutama jika
terkena oleh sinar matahari”Kemudian pergilah ia ke hutan, dan ketika telah
melihat lembu seperti yang dimaksudkan ibunya ia berdo’ a,“Aku panggil engkau
demi Tuhan- nya Nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq, dan Yaqub. Segeralah datang
kemari.”Maka larilah lembu itu sehingga berdiri tegak di depannya. Lalu ia
pegang lembu itu untuk dituntun menuju rumahnya,namun tiba- tiba lembu itu
berkata,“Wahai pemuda yang taat kepada ibunya, naiklah ke atas punggungku untuk
memudahkanmu”Jawab pemuda, “Ibuku tidak menyuruhku demikian, tetapi ia berpesan
agar aku memegang lehermu dan menuntunmu pulang”Lembu itu kemudian berkata,
“Demi Tuhannya Bani Isra’ il, jika engkau tidak dapat mengendaraiku maka
berjalanlah. HaiPemuda sekiranya Anda perintahkan kepada bukit untuk berpindah
tempat pasti akan benar- benar berpindah semua bukit itu karena ketaatan dan
baktimu terhadap ibumu.”Setelah sampai di rumahnya, diserahkanlah lembu itu
kepada ibunya. Ibunya kemudian erkata, “Hai anakku, engkau miskin dan tidak
berkecukupan. Dan tentu sangat berat bagimu mencari kayu di waktu siang dan
bangun ketika malam, karena itu lebih baik kamu jual saja lembu ini”Ia kemudian
bertanya kepada ibunya, “Harus kujual dengan harga berapakah, Ibu?”“Tiga
dinar”, jawab ibunya, “Dan jangan dijual terlebih dahulu sebelum bermusyawarah
denganku”Pada masa itu harga lembu memang sebesar tiga dinar. Lalu dibawalahlembu
itu kepasar, dan tanpa sepengetahuannya Allah telah mengutus seorang Malaikat
untuk menguji ketaatan pemuda itu terhadap ibunya. Kemudian datanglah Malaikat
( yang menjelma menjadi seorang manusia ) menemui pemuda tersebut dan bertanya
kepadanya,“Dengan harga berapakah Anda akan menjual lembu ini?”“Tiga dinar
dengan rela ibuku”, jawab pemuda itu.“Bagaimana jika saya beli dengan enam
dinar dengan syarat tanpamemberitahu ibumu?”Jawab pemuda, “Andaikan Anda
memberi padaku seberat lembu ini uang emas, maka aku tetap tidak akan
menerimanya jika tanpa ridha dari ibuku”Kemudian ia pulang untuk memberitahu
apa yang terjadi kepada ibunya. Ibunya berkata, “Kini engkau boleh menjualnya
sebesar enam dinar dengar ridhaku”Maka kembalilah ia ke pasar dan berkata
kepada Malaikat yang telah menjelma menjadi manusia itu, “Ibuku telahridha
apabila aku menjualnya dengan hargaenam dinar, dan tolong jangan dikurangi dari
harga itu”Jawab Malaikat, “Kini akan saya bayar kepadamu sebesar duabelas dinar
dengan syarat tanpa memberitahu kepada ibumu”Maka kembali lagilah ia kepada
ibunya untuk memberitahukan akan hal itu. Lalu ibunya berkata, “Yang datang
kepadamu itu adalah seorang Malaikat yangakan mengujimu. Maka bila ia datang
kembali tanyakanlah kepadanya ‘apakah lembu ini boleh dijual atau
tidak?’”Kemudian ia kembali lagi ke pasar dan menanyakan hal yang sama seperti
yang diperintahkan ibunya. Ketika ditanyakan hal itu, Malaikat tersebut
berkata, “Pulanglah Anda dan katakan kepada ibumu agar mempertahankan dahulu
lembu ini sebab Nabi Musa bin Imran a.s. yang akan datang untuk membeli lembu
ini. Maka jangan dijual kecuali jika dengan harga uang emas seberat lembu
ini.”Maka ditahanlah terlebih dahulu lembu itu sehingga terjadi perintah dari
Allah kepada Bani Isra’ il untuk menyembelih lembu. Dan ketika dicari lembu
yang memenuhi syarat, maka tidak ada yang lain kecuali lembu milik pemuda itu.
Kemudian akhirnya dibelilah lembu itu dengan harga uang emas seberat badan
lembu tersebut.Ini sebagai karunia dan rahmat dari Allah swt. Karena ketaatan
dan baktinya pemuda itu terhadap ibunya.Kisah Imam Syafi’i Hormat kepada
GurunyaDikisahkan, Imam Syafi’i yang sedang mengajar para santrinya di kelas,
tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan seseorang berpakaian lusuh, kumal
dan kotor. Akan tetapi Imam Syafi’i langsung mendekati dan memeluknya. Para
santri kaget dan heran melihat perilaku gurunya itu. Mereka bertanya: “Siapa
dia wahai Guru,sampai engkau memeluknya erat-erat. Padahal ia seorang kumuh,
kotor, dan menjijikkan?”Imam Syafi’i menjawab: “Ia adalah guruku. Ia yang telah
mengajariku tentang perbedaan antara anjing yang cukup umur dengan anjing yang
masih kecil. Pengetahuan itulah yang membuatku bisa menulis buku fiqh ini.”
Sungguh mulia akhlak Imam Syafi’i. Beliau menghormati semua guru-gurunya,
meskipun dari masyarakat biasa.
5.HIKMAH PATUH DAN HORMAT KEPADA KEDUA ORANG TUA DAN GURU
Kita telah membahas arti pentingnya hormat dan patuh kepada orang
tua, Adapun hikmah yang bisa diambil dari berbakti kepada kedua orang tua dan guru,
antara lain seperti berikut.
1.Berbakti kepada kedua orang tua merupakan amalan yang paling
utama.
2.Apabila kedua orang tua kita ridha atas apa yang kita perbuat,
Allah Swt. pun ridha.
3. Berbakti kepada orang
tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami, yaitu dengan cara
bertawasul dengan amal saleh tersebut.
4. Berbakti kepada kedua
kedua orang tua akan diluaskan rezeki dan dipanjangkan umur.
5. Berbakti kepada kedua
orang tua dapat memasukkan kita ke jannah (surga) oleh Allah Swt.
BAB IIIPENUTUP
1.KESIMPULAN
1)Hormat berarti menghargai, takzim dan khidmat kepada orang lain,
baik orang tua, guru sesama anggota keluarga. Dalam hubungan dengan orang tua,
perilaku hormat ditujukan dengan berbakti kepada orang tua. Berbakti merupakan
kewajiban anak kepada orang tua
2)Perilaku hormat dan patuh kepada orang lain sangat baik dilakukan
oleh seorang muslim. Oleh karena itu, perilaku hormat dan patuh ini harus
diterapkan kepada siapa saja. Berikut adalah contoh perilaku hormat dan patuh
kepada orang tua, guru dan anggota keluarga
3)Taat dan berbakti kepada kedua orang tua adalah sikap dan
perbuatan yang terpuji. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa Allah Swt.
memerintahkan kepada umat manusia untuk menghormati orang tua. Dalil-dalil
tentang perintah Allah Swt. tersebut antara lain pada Surah Al-Isra':
2.SARAN
Sesuai dengan Pembahasan dan kesimpulan di atas, Kami menyarankan
untuk dapat memahami konsep pemikiran atau mindset yang baik akan sikap dan
tindakan yang benar dalam Menghormati dan Mematuhi kedua Orangtua dan Guru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar